Mas Hajriyanto kalah lantaran ‘finishing touch’

moneyPolitikparlemen-PLENO penghitungan suara hasil pemilu legislatif belum dimulai tapi politisi senior Golkar yang juga Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y Thohari sepertinya sudah mengibarkan bendera putih. Penghitungan suara yang dilakukan relawannya menunjukkan suara Hajriyanto sebenarnya tak jauh berbeda dengan suara pemilu sebelumnya di dapil Jawa Tengah IV (Kab. Karanganyar, Kab. Sragen, dan Kab. Wonogiri).

“Saya sebenarnya dapat mempertahankan suara konstituen tetapi pesaing saya lebih banyak suaranya,” kata Hajriyanto lirih ketika diskusi bertajuk “Praktek Money Politics dalam Pemilu” di Kompleks Parlemen, Jakarta.

“Sebenarnya saya tidak tepat menjadi pembicara diskusi ini nanti orang akan mengatakan itulah suara orang yang kalah,” tambahnya membuat peserta diskusi tertawa.

Tapi namanya juga Hajriyanto, kendati kemungkinan tipis melenggang ke Senayan, tetap tak kehilangan selera humornya. Istilah lucu dan parodi kehidupannya didedahkan dalam diskusi tersebut.

“Ini mungkin hukuman juga bagi saya karena masyarakat juga mungkin bertanya-tanya, apa sih kerjaan Pimpinan MPR ini,” ujarnya, lepas.

Menurut Hajriyanto ada dua profesi yang sangat enjoy dan untuk menghentikannya harus dipaksa. “Pertama profesi politikus dan kedua artis. Dua-duanya harus dipaksa,” katanya. “Politisi diturunkan dengan tidak dipilih dalam pemilu dan artis dilengserkan dengan cara tidak ditonton.”

Bukan mengeluh, tapi seperti diakui Hajriyanto memang money politics dalam pemilu ini sangat masif dibandingkan pemilu sebelumnya. “Sangat tidak masuk akal ada caleg yang menyebarkan 13 ribu amplop dengan setiap amplop di dalamnya ada duit Rp 20 ribu. Ini nyata dan sampai-sampai bank sangat sulit untuk memenuhi pasokan duit pecahan 20 ribu,” papar aktivis Muhammadiyah ini.

Sebelumnya Hajriyanto juga menjelang injury time sempat diingatkan oleh ‘tim kolsultan’ untuk menyediakan dana sekira Rp 700 juta untuk memberikan tendangan pamungkas atau finishing touch bila ingin memenangi suara di daerah pemilihannya. Namun Hajriyanto menolaknya.

Apa jawaban tim pemenangan itu? “Kami sudah mengingatkan. Kami tidak bertanggung jawab bila hasilnya tidak memuaskan,” Hajriyanto menirukan. “Coba, perkataan mereka enteng banget,” sambung Hajriyanto kembali membuat wartawan tertawa lepas.

Hajriyanto sempat galau. Tapi hati nuraninya cepat bereaksi. “Masa saya yang membuat undang-undang dan juga sampai ikut membahas dan menyusun kalimat tentang money politics itu sampai detail terlibat jadi pelaku kejahatannya? Wah, itu dosa paling besar. Kalau caleg lain melakukan money politics tapi tak terlibat membahas undang-undangnya mungkin dosanya lebih kecil,” ujarnya. (YRC)

Leave a Reply

*