Salim Mengga Khawatir dengan Bahasa Mandar (2)

IMG_00002789MAYJEN (Pur) Salim Mengga, anggota Fraksi Partai Demokrat asal Sulawesi Barat, termasuk yang sangat peduli dengan bahasa daerah. Bahasa mandar, bahasa lokal di Sulawesi Barat, dinilai sudah mengkhawatirkan. Kegundahan Salim Mengga ini dituturkan kepada Yayat R Cipasang dari PolitikParlemen.com dalam perbincangan santai di Kompleks Parlemen, baru-baru ini.

Saya pernah baca, Anda termasuk yang gundah dengan keberadaan bahasa mandar di Sulawesi Barat. Anda masih gundah sampai sekarang?

Sangat memprihatinkan. Sudah lama saya mengimbau bupati-bupati untuk memasukkan bahasa daerah ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah. Ciri dari beragamnya bangsa itu kan bisa dilihat dari bahasa. Penguasaan anak-anak muda akan bahasa lokal sangat rendah sekali. Ini jelas memprihatinkan.

Kekhawatiran Anda itu sampai kemungkinan bahasa lokal di Sulbar bisa sampai punah?

UNESCO sudah melaporkan, secara masif bahasa-bahasa daerah banyak yang punah. Itu benar. Saya rasakan di daerah sendiri di Sulbar. Mereka yang mengunakan bahasa mandar kebanyakan orangtua. Anak-anak muda mana?

Apakah penyebab di beberapa daerah juga berlaku di Sulbar?

Saya kira sama di semua daerah penyebabnya. Tiap hari mereka nonton televisi memakai bahasa Indonesia. Di sekolah bahasa Indonesia. Orangtuanya juga di rumah berkomunikasi memakai bahasa Indonesia. Ditambah lagi dengan serbuan bahasa Inggris dan bahasa lainnya.

Sejauh ini apa tanggapan kepala daerah soal pelestarian bahasa mandar?

Saya sudah desak kepada-kepala daerah untuk memasukkan bahasa mandar ke dalam muatan lokal. Tapi mereka menjawabnya, susah. Alasannya di Sulbar ada bahasa Bugis, ada bahasa Jawa dan macam alasan lainnya. Saya langsung debat. Itu nggak masalah. Bukan halangan. Anak saya saja sekolah di Jawa Barat dipaksa dia belajar bahasa Sunda. Awalnya nilainya 3 atau 4. Nggak apa-apa itu.

Kemudian saya pindah ke Jawa Tengah. Anak saya dipaksa lagi belajar bahasa Jawa karena muatan lokalnya bahasa Jawa. Nggak ada masalah. Harus dipaksa.

Apa akibatnya bila bahasa daerah punah, khususnya bahasa mandar?

Kalau kita tidak menguasai bahasa daerah dan tidak bangga dengan identitas kita sendiri, siapa lagi yang peduli. Identitas kita itu salah satunya adalah keberagaman dalam bahasa. Kalau kita hanya bisa bahasa Indonesia, keberagaman yang menjadi ciri khas Indonesia tidak ada lagi.

Leave a Reply

*