Keberanian Misbakhun Menuding SBY sebagai “Dalang” Century

20150831_145839

Resensi Buku :

Judul: Sejumlah Tanya Melawan Lupa

Penulis: Mukhamad Misbakhun

Cetakan: Pertama, Juni 2015

Tebal: x + 190 halaman

Penerbit: Evolitera

Politikparlemen,JAKARTA – Setidaknya saya sudah membaca empat buku yang membahas gonjang-ganjing bailout Century yang ditulis oleh anggota Tim Sembilan (inisiator hak angket Century) dan anggota Timwas Century seperti buku Tim 9 Membongkar Kasus Century (ditulis bersama), Skandal Bank Century di Tikungan Terakhir Pemerintahan SBY-Boediono  karya Bambang Soesatyo ,Kemana Ujung Century? dikarang Fahri Hamzah dan Sejumlah Tanya Melawan Lupa karya Mukhamad Misbakhun.

Dari empat buku tersebut yang secara eksplisit menuding Presiden ke-6  RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai ‘dalang’ kasus Century adalah buku karya Misbakhun. Membaca buku karya Misbakhun dari bab pertama hingga bab tujuh tak berbeda jauh dengan buku-buku karya anggota Tim Pansus Century lainnya seperti perdebatan perlu tidaknya Bank Century di-bailout dan perdebatan bailout Century sebagai korupsi atau bukan.

Kendati dalam judul bab delapan buku Sejumlah Tanya Melawan Lupa, Misbakhun masih menggunakan tanda tanya tidak mengurangi keberanian anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Golkar ini. Misbakhun menggunakan tanda tanya sebagai bentuk azas praduga tak bersalah karena belum ada keputusan pengadilan atas keterlibatan SBY. Menurut saya penggunaan judul “Apakah SBY Terlibat?” bukan sebagai bentuk keraguan tetapi sebagai wujud tidak menghakimi seseorang sebelum ada keputusan pengadilan.

Keunggulan buku Misbakhun dengan buku-buku sebelumnya adalah menyertakan tiga dokumen berupa surat Menteri Keuangan sekaligus sebagai Ketua Ketua Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) Sri  Mulyani yang dikirimkan kepada SBY. Ketiga surat tersebut dengan jelas menggambarkan bahwa SBY mengetahui pemberian dana bagi Bank Century. Pada ketiga surat itu, dituliskan kalimat yang sama dan diulang beberapa kali yang berbunyi, “Sebagaimana yang Bapak Presiden ketahui” dan “Sebagaimana yang Bapak maklumi”. (hal. 147-149)

Dari ketiga surat ini dengan jelas bahwa  Sri Mulyani sudah melaporkan segala hal tentang pengambilan keputusan Bank Century.  “Artinya keputusan dibuat atas dasar pemakluman presiden, dan itu jelas walaupun SBY tetap menyangkal,” kata Misbakhun.

Rekan Misbakhun,  Bambang Soesatyo memuji peluncuran buku Sejumlah Tanya Melawan Lupa. Bambang menyatakan pada dasarnya para pihak yang terlibat langsung dalam perhitungan, pencairan dan penyerahan dana talangan Bank Century tahun 2008 silam, terlihat gagap dan terkesan saling lempar dalam pertanggungjawaban.

“Gagap pertama berkaitan dengan fakta bahwa semua proses hingga pencairan dana talangan sampai Rp2,5 triliun, dari rekomendasi BI sebesar Rp632 miliar, yang disetujui KSSK, tidak dilaporkan kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla selaku pelaksana tugas Presiden kala itu,” kata Bambang.

Gagap kedua, kata Bambang, yakni curahan hati Ketua KSSK yang juga Menteri Keuangan saat itu, Sri Mulyani kepada Wapres Jusuf Kalla bahwa dia merasa telah dibohongi oleh orang-orang Bank Indonesia (BI).

“Keluh kesah Sri Mulyani ini menjadi persoalan tersendiri. Ketika Ketua KSSK merasa telah dibohongi artinya dia gagap bertanya kepada Gubernur BI saat itu, Boediono, yang juga merangkap anggota KSSK,” jelas dia.

Lalu kenapa SBY selalu membela Boediono dan Sri Mulyani?  “Betapa kita beruntung memiliki putra bangsa seperti Boediono dan Sri Mulyani yang tidak meninggalkan rekam jejak buruk sedikit pun terkait dengan kompetensi, kredibilitas dan integritas pribadinya.” Begitulah SBY dalam sebuah kesempatan.

Pembelaan ‘matia-matian’ SBY ini dalam istilah SBY sepatutnya dicurigai!. (erc)

Leave a Reply

*