Kondisi Dunia Film Indonesia Butuh RUU Perfileman

20160308_134553

Politikparlemen,JAKARTA – Ketua Panja Pengawasan RUU Film Abdul Kharis Almasyhari mengakui kondisi carut marut dunia perfilman baik di layar lebar maupun televisi, karena selama ini tidak ada aturannya, sehingga film dan sinetron kita buruk. Memang tidak semua buruk, karena film ‘Ayat-ayat cinta’ cukup baik dan penontonnya melebihi sejuta orang. Karena itu dengan revisi UU Perfilman No. 33 tahun 2009 tentang film itu nantinya akan lebih baik lagi.

“Kalau film kita dibiarkan tanpa aturan, maka budaya Indonesia akan habis. Apalagi tanpa pembatasan investasi asing, maka akan makin terpuruk. Memang, berbeda antara film dan sinetron. Tapi, setelah ketemu insan film, ternyata sekarang ini banyak yang sore shooting dan malamnya tayang, sehingga lepas sensor,” tegas politisi PKS itu pada diskusi forum legislasi tentang RUU Perfilman bersama aktor dan produser film Dede Yusuf dan pengamat film Yan Wijaya di Gedung DPR RI Jakarta, Selasa (8/3/2016).

Menurut Abdul Kharis, budaya daerah Indonesia sangat kaya dan beragam, tapi belum seluruhnya diangkat ke layar lebar. Ditambah lagi jumlah bioskop kini makin berkurang di tinggal 13 %. Itu pun berada di kota-kota besar. “Bioskop yang ada sekarang ini tinggal 13 % dan itu di kota-kota besar. Sedangkan di daerah sudah habis,” ujarnya.

Karena itu, hasil Panja Pengawasan film ini kata Abdul Kharis, hanya akan merekomendasikan untuk revisi UU Film, agar dunia perfilman di lapàngan akan lebih baik lagi. Hanya saja persoalan di daerah selama ini adalah pajak untuk hiburan itu besar, yaitu sampai 38 %. Akibatnya pengusaha film terkonsentrasi di kota-kota besar. Sebab, kalau di daerah merugi. “Kalau di daerah mereka merugi,” tambah politisi PKS itu.

Dede Yusuf mengakui jika kini film mengalami penurunan kualitas. Sehingga wajar kalau waktu tayangnya di bioskop-bioskop hanya selama 3 hari. Berbeda dengan film-film asing yang lebih lama. Kedua, kenapa masyarakat tidak mau nonton film Indonesia? “Film kita dihadapkan pada film streaming melalui pencarian bakat yang tayang sejak pagi sampai tengah malam bahkan dini hari. Itu, hanya untuk kejar rating, sehingga produser film tak tertarik membuat film karena pasti merugi. Maka mau menjadi apa film kita? Kreatifitas pun sudah tidak terbentuk,” tambah Ketua Komisi IX DPR RI itu.(erc)

Leave a Reply

*