Geliat Partai Golkar Pascareshuffle

Kartoyo DS

Kartoyo DS

Politikparlemen,JAKARTA – Setelah dua tahun bergelut dengan konflik internal, akhirnya Partai Golkar mampu menyelesaikannya. Meskipun penyelesaian konflik itu berjalan penuh liku.
Memang tahun tahun belakangan ini Partai Golkar benar benar menjadi pusat perhatian masyarakat, terutama insan politik dan pers. Setelah gagal menetapkan ketua umumnya pada Munas 2014 lalu, yakni Aburizal Bakrie (ARB) atau Agung Laksono, partai terbesar kedua di era reformasi ini terlibat konflik berkepanjangan yang hampir memecahkan bahtera.
Perseteruan Aburizal Bakrie (ARB) dan Agung Laksono dalam perebutan kursi ketua umum yang sudah masuk wilayah hukum dan berlangsung berlarut larut dan menjemukan itu, membuat Golkar terbelah menjadi dua kubu. Hal ini juga membuat program partai tidak bisa berjalan sebagaimana diharapkan.
Karena di sisi lain, ada kesan partai berlambang beringin ini juga menjadi bulan bulanan permainan politik Pemerintah yang sengaja mengaduk aduk partai berlambang beringin itu agar tidak memiliki taji lagi di kancah politik nasional. Sehingga pada Pemilu 2019 nanti tidak bisa memperoleh suara signifikan. Golkar dilemahkan, Golkar dibuat tidak berdaya oleh sikap, kebijakan serta keputusan Pemerintah yang terkesan tidak ingin Golkar menjadi lawan politik yang tangguh. Untuk itu Golkar sampai dibuat “ampun ampunan” menghadapi gempuran penguasa Orde Reformasi ini.
Lantas bagaimana sikap Golkar sendiri ? Entah apa istilahnya, apakah menyesuaikan diri atau menyerah, Golkar yang semula menyatakan diri sebagai partai oposisi bersama KMP (koalisi merah putih), kemudian mengaku sebagai penyeimbang, akhirnya bertekuk lutut di kaki Pemerintahan Jokowi-JK.
Dengan terpaksa Golkar harus keluar dari KPM dan bergabung dengan KIH (koalisi indonesia hebat). Sekarang, setelah lolos dari lubang jarum atau lolos dari perangkap pukat harimau, Golkar telah pulih dari “sakit”nya, bangkit dari keterpurukannya. Partai besar ini telah memilih ketua umum baru, Setya Novanto dalam sebuah pemilihan yang demokratis di Bali, Mei lalu.
Tapi, sayangnya langkah atau manuver politik Golkar sekarang tidak lagi menunjukkan kedigjayaannya sebagai partai besar yang pernah menjadi partai penguasa di era Orde Baru. Sebaliknya Golkar menunjukan sikap sebagai partai kelas dua. Partai yang lemah dan tidak berdaya.
Menjelang reshuffle kabinet jilid II, Golkar terus berupaya mengambil hati Presiden Jokowi dengan pernyataan akan mendukung Jokowi pada pilpres 2019 nanti. Upaya terus berlanjut. Dalam Rapimnas lalu Golkar kembali mengambil hati Presiden Jokowi dengan membentangkan banner bertuliskan Jokowi & Novanto sebagai calon presiden dan wakil presiden 2019.
Disatu sisi, Golkar terlihat memiliki kecerdasan berpolitik karena telah mencuri start dari PDIP, yang nota bene sebagai pengusung Jokowi untuk memperoleh berbagai jabatan, baik saat ingin menjadi walikota Solo, gubernur DKI maupun presiden. Tapi di sisi lain, publik akan melihat Golkar sebagai partai yang tidak mandiri lagi. Golkar yang dalam beberapa kali pilpres selalu mempersiapkan calon presiden, bahkan pernah membuat konvensi calon presiden (Pilpres 2004), kini jauh jauh hari sudah menempatkan posisinya di bawah kader partai lain.
Memang politik itu dinamis, pergerakannya tidak bisa diduga dan dikira. Dalam politik juga ada pameo, tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, yang abadi hanyalah kepentingan. Tapi, sebagai partai besar yang dikenal sebagai partai yang memiliki kader yang piawai dalam berpolitik, mestinya Golkar tidak terburu buru menempatkan dirinya di bawah bayang bayang figur atau partai lain. Karena, sebagaimana cita cita dan keinginan para senior Golkar, bagaimanapun rumusnya, Golkar harus kembali berjaya dan menjadi partai nomor satu dan memegang tampuk kekuasaan (presiden). Seiring dengan itu, pascareshuffle lalu ada yang mengatakan, jika Golkar cantik dalam berpolitik, Pemilu 2019 akan menjadi entri point bangkitnya Orde Baru.
Dan untuk itu, masih banyak jurus lain yang bisa dimainkan oleh partai yang memiliki kader handal ini, bukan dengan memainkan “jurus dewa mabok”. Dan jika kita menggunakan analogi sepakbola, maka Golkar harusnya bermain cantik dan tenang, tidak tergesa gesa seperti takut ketinggalan kereta.
Ibaratnya, sekarang Golkar sudah menguasai lapangan tengah, tinggal yang terpenting, untuk memenangkan pertarungan pada Pemilu dan Pilpres 2019, harus dibangun kerjasama antarlini dengan baik. Permainan individu boleh saja diperagakan untuk menunjukkan kedigjayaan Golkar, tapi kerjasama tim menjadi yang paling utama.
Di bawah kepemimpinan ketua umum Setya Novanto, yang memiliki modal besar, Partai Golkar dipastikan mampu menggeliat dan bangkit dari keterpurukan. Apalagi jika ditopang kekuatan publikasi media, baik media online, TV maupun media cetak (koran) yang dimiliki Partai Golkar, 2019 bisa menjadi tahunnya Golkar.(Kartoyo DS)

*Penulis adalah wartawan Peliput DPR

Leave a Reply

*